Salah satu sunnah puasa adalah mengakhirkan sahur. Dalam pelaksanaannya, Rasulullah ï·º dan para sahabat beliau hanya mengambil jarak sekira lima puluh ayat (sekitar 10-15 menit) menjelang Subuh. Praktis, generasi pertama umat Islam tersebut tidak tidur setelah sahur.
Bertolak belakang dengan sunnah mulia ini, di zaman sekarang banyak muslim yang sahur satu jam atau 2 jam sebelum adzan Shubuh kemudian tidur setelah sahur. Akibatnya, terkadang ketinggalan jamaah shalat Subuh dan kehilangan berkah waktu pagi.
Selain itu, ternyata tidur setelah sahur juga berbahaya bagi secara medis. Bagaimana penjelasannya?
Setelah mengkonsumsi makanan (termasuk sahur), sistem pencernaan memerlukan beberapa waktu untuk mencerna dan menyerap nutrisi yang ada di dalam makanan tersebut. Ketika seseorang tidur setelah makan (sahur), apalagi dalam posisi terlentang, pencernaan menjadi melambat atau sulit bekerja. Akibatnya, timbullah nyeri di ulu hati dan panas yang menyebar ke dada dan tenggorokan karena meningkatnya asam lambung.
Selain itu, tidur setelah sahur juga bisa memicu terjadinya refluks. Yakni makanan berbalik dari lambung ke kerongkongan. Semakin pendek jarak waktu makan (sahur) dan tidur, kemungkinan terjadinya refluks makin besar. Karena variabel penentu refluks ada dua yakni makanan yang belum dicerna dan terpengaruh gravitasi saat tidur.
Di antara tanda refluks adalah ketika seseorang terbangun dari tidur setelah sahur ia merasakan kerongkongannya panas dan mulutnya terasa pahit. Para dokter menyarankan jeda waktu antara makan dan tidur adalah dua jam. Namun sunnah Rasulullah lebih lama lagi. Beliau dan para sahabatnya biasa mengisi waktu setelah sahur dengan shalat atau dzikir dan setelah Subuh berdzikir hingga matahari terbit. Untuk tidur sejenak, mereka memilih waktu siang yang dikenal dengan istilah qailulah.
Sedangkan bahaya jangka panjang, tidur setelah sahur dipercaya meningkatkan resiko terkena stroke. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah terkena stroke. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki jeda paling singkat antara makan dan tidur memiliki resiko lebih tinggi terkena stroke.
Jika hasil studi medis dan penelitian menunjukkan demikian bahayanya makan setelah sahur, kita jadi semakin yakin bahwa sunnah-sunnah Rasulullah ï·º senantiasa membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Hal-hal ini juga semakin menguatkan kebenaran Islam.
Bagaimana caranya agar tidak tidur setelah sahur? Berikut ini cara Rasulullah ï·º dan sahabat agar tidak tidur setelah sahur:
1. Mengakhirkan sahur
Rasulullah ï·º menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan sahur. Mengakhirkan sahur ini juga termasuk salah satu sunnah puasa sehingga para sahabat pun melakukan hal yang sama. Berapa jeda waktu antara makan sahur dan shalat Subuh?
Zaid bin Tsabit meriwayatkannya kepada kita:
تَسَØَّرْÙ†َا Ù…َعَ رَسُولِ اللَّÙ‡ِ -صلى الله عليه وسلم- Ø«ُÙ…َّ Ù‚ُÙ…ْÙ†َا Ø¥ِÙ„َÙ‰ الصَّلاَØ©ِ. Ù‚ُÙ„ْتُ ÙƒَÙ…ْ Ùƒَانَ Ù‚َدْرُ Ù…َا بَÙŠْÙ†َÙ‡ُÙ…َا Ù‚َالَ Ø®َÙ…ْسِينَ آيَØ©ً.
“Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah ï·º. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”. (HR. Muslim)
Dengan dekatnya waktu sahur dengan waktu Shubuh (terbit fajar), selain mendapat keberkahan seperti disebutkan dalam hadits lainnya, juga meminimalisir peluang untuk mengantuk. Sebaliknya, jika waktu sahur dan waktu Shubuh masih berjam-jam, biasanya besar keinginan untuk tidur.
2. Mengisi jeda waktu antara sahur dan Subuh dengan shalat dan dzikir
Seperti hadits di atas, Rasulullah ï·º dan para sahabat beliau biasa mengisi waktu jeda antara makan sahur dan waktu Shubuh dengan shalat, dzikir dan doa. Selain mendapatkan keutamaan waktu sepertiga malam terakhir yang merupakan waktu mustajab untuk berdoa, otomatis juga terhindar dari tidur.
3. Shalat Subuh berjamaah
Rasulullah ï·º dan para sahabat beliau adalah orang-orang yang paling rajin shalat berjamaah. Maka begitu tiba waktu Shubuh, mereka (sudah) pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh berjamaah. Usai shalat berjamaah, mereka juga biasa berdiam diri di masjid. Dzikirnya lama. Bahkan banyak pula yang baru selesai setelah matahari terbit dan sekitar 10-15 menit kemudian menunaikan shalat sunnah syuruq yang keutamaannya seperti pahala haji. Dan praktis, tidak ada waktu tidur setelah sahur.
📚 Eramuslim
⚔⚔⚔⚔⚔🛡⚔⚔⚔⚔⚔
Grup WA "Rijalun Sholih"
Minhunna Nabda' Ilal Aqsho Naltqi
Raih pahala, sebarkan informasi ini...

No comments:
Post a Comment