_____________
"Subhanallah Mas, si Fulanah itu baik banget orangnya lho, apalagi kalau lihat mukanya pas buka cadar, kayak Boneka Barbie banget. Alis matanya tebal, bulu matanya lentik, bibirnya mungil, sayang banget dia janda..."
Pernah menceritakan wanita lain di depan suamimu? Entah itu teman dekat kita sendiri, muslimah lainnya, atau artis wanita yang engkau favoritkan? Kalau pernah, lain kali jangan diulangi lagi yaa, karena ternyata ada lho anjuran dari Rasulullah ï·º untuk para istri agar tidak menggambarkan kecantikan dan sifat wanita lain di hadapan suaminya. Berikut ini haditsnya:
“Janganlah seorang istri mendeskripsikan sosok dan sifat wanita lain di depan suaminya, seakan ia langsung melihatnya.” (HR. Muslim no. 5240-5241, Abu Dawud no. 2150, Ahmad I/387, 438 dan 443)
Mengapa ada larangan demikian? Ya, karena bisa jadi syetan menghembuskan was-was dan niat buruk di hati sang suami, sehingga merasa tertarik dengan sosok yang dideskripsikan oleh istrinya tersebut, kemudian dari cerita sang istri berlanjut menjadi angan-angan suami, sampai akhirnya berujung ke perzinaan, na'udzubillah min dzalik, jangan sampai istri turut menejerumuskan suami sendiri ke lembah zina karena mulut yang salah bicara.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak.” (QS. Ali-‘Imran: 14 )
Tapi jangan salah... ternyata pria pun sebaiknya tidak menceritakan kecantikan dan sifat baik istrinya di hadapan teman-temannya, hal ini agar lebih menjaga diri dan keluarganya dari fitnah. Sangat mungkin jika seorang suami memuji-muji istrinya di hadapan pria lain, akan menimbulkan rasa penasaran dan niat buruk untuk menggoda sang istri. Ingatlah bahwa di akhir zaman ini makin marak perzinaan, hendaknya kita menjauhkan diri dan keluarga dari zina, mulai dari hal terkecil.
Rasulullah ï·º berwasiat : “Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar. Lidah (lisan) zinanya adalah berbicara. Tangan zinanya adalah memegang. Kaki zinanya adalah melangkah. Sementara hati berkeinginan dan berangan-angan maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan hal itu atau mendustakannya).”(HR. Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas dan Muslim dari Abu Hurairah)
@Ummi Online

No comments:
Post a Comment